Citra di Sosial Media

Bukan. Saya bukan mau ngomongin orang yang bernama Citra. Tapi, sering gak sih dengar ada orang yang bilang,
"pencitraan banget sih dia."
"Ah, di sosmed jaim banget sih padahal aslinya gak gitu."
Gak jarang saya dengar kalimat seperti itu.
Kilas balik ke jaman awal-awal saya ikutan main sosial media, dulu yang lagi hits banget itu friendster. Gak lama setelah itu saya ketemu facebook, mulai kenal habit 'update status'. Dulu, kalo mau update, suka gak mikir dua kali. Ketika saya lagi emosi, saya ungkapkan kekesalan saya tanpa mikir lebih dalam tentang pandangan orang yang baca status saya. Saya lupa kata-kata yang saya pakai, tapi seingat saya, saya bukan tipe orang yang menuliskan kata-kata kasar dengan frontal. Ketika lagi senang pun gak jarang saya mengekspresikannya dengan update status. Singkatnya, saya bisa bilang saya gak begitu jaga image. What I feel that's what I write.
Itu dulu, jaman saya lagi di usia labil-labilnya. Waktu masih ada di range kelas 3 SMP sampai SMA. Di usia yang sekarang sudah 20-something dan pengalaman yang cukup lama punya sosial media, saya banyak belajar. Saya menyadari bahwa kita perlu pikir ulang apa yang mau kita share, akan menyinggung kah?, terlalu frontal kah?, masih pantas kah? dan kah kah lainnya. Jadi saya bilang sekarang saya jaga image. Saya menjaga citra diri saya di sosial media. Menurut saya sah sah aja kalau kita mau menjaga atau membuat citra baru kita di sosial media, as long as it is positive then why not ?

Again, I tell you as long as it is positive ya. Karna gini deh, dari setiap foto yang berhasil kita capture, sejelek apapun atau sebagus apapun, kita pasti akan memilih yang terbaik buat di posting. Itu juga bentuk dari pencitraan dan itu gak salah kok. Justru itu jauh lebih baik daripada sekedar plagiat atau posting yang jelas-jelas bukan karya kita tapi kita mengklaim bahwa itu punya kita. Jujur.. saya jauh sangat mengapresiasi postingan temen yang walaupun itu blur kek, gak artsy kek atau apapun itu lah yang penting real karya sendiri. 
Main sosmed itu kan banyak pressurenya ya secara gak langsung. Ada tekanan kekinian, tekanan ingin di apresiasi, atau tekanan lain yang bisa bikin kita terkecoh bahkan lupa diri. Penting banget buat kita memperkuat benteng pertahanan atau filter diri, supaya kita tetap tahu where our track is. Oh iya, supaya kita tetap punya etika walaupun di sosial media. Ini yang banyak orang lupa. Lupa asal diri sendiri demi eksistensi. Gak inget gimana bersikap selayaknya bersosialisasi di real life. Komentar seenaknya, memalsukan identitasnya. Sayang kan.

Lewat sosial media, banyak hal yang bisa kita akses. Dari yang kita memang perlu tahu sampai hal yang kita harusnya gak perlu tahu. Kita juga banyak ketemu orang baru atau network baru. Saya pribadi berteman dengan orang-orang yang saya kenal dekat secara personal di sosial media. Jadi, buat saya penting untuk menjaga citra saya di sosial media, karna membuat kita tetap ingat akan etika bersosialisasi. Sederhananya begini, akun yang saya gunakan adalah akun saya, identitas saya, foto yang saya share juga foto saya. Hal itu di akses oleh followers saya yang pada dasarnya adalah teman atau bahkan family related saya. Ketika saya memposting yang gak seharusnya, saya akan dapat respon negatif yang dampaknya gak hanya ke saya pribadi, bisa jadi berdampak ke kedua orang tua saya. Padahal, orang tua saya, pun orang tua kalian juga, pasti mengajarkan bagaimana punya etika yang baik. Untuk itu, sekarang saya belajar untuk lebih wise ketika main sosial media.


Pada intinya, ini semacam self reminder buat saya pribadi bahwa sah sah aja membuat citra baru asal.. ya itu keep positive dan orisinil. Jangan sibuk membohongi orang lain dan diri sendiri demi eksistensi. Tetap jaga etika karna in social media or real life kita gak hidup sendiri.





Idk its related or not with the title or whatever, tapi semoga pesannya sampai :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Sendiri

Cerita Lama

If Only