Baduy Trip
Assalamualaikum teman-teman!
Last week is the first long weekend in 2018. So how was your weekend? It was fun right?
Kali ini gue mau share sedikit tentang long weekend gue kemarin. It's not a luxurious kinda holiday. It's a simple yet impressed holiday. Berawal dari sepupu gue yang punya ide untuk trip bareng tapi gak tahu mau kemana. Setelah banyak wacana akhirnya kita putuskan untuk ke Baduy. Dimana sih Baduy itu? Baduy ada di kabupaten Lebak, Banten. The three of us never been there before. Awalnya kita sotoy mau kesana bertiga, tapi kita sadar it wouldn't be easy haha. Gue pun perlu kasih suggest ke diri gue sendiri untuk berani kesana karna gue pernah dengar sedikit tentang Baduy yang katanya ada di pedalaman, gak ada listrik which is gelap, sunyi dan.. I have to admit I'm not brave enough hehe.
Gue dan dua sepupu gue akhirnya memutuskan untuk join open trip. Meeting point kita di stasiun Tanah Abang, lanjut naik KRL ke Rangkasbitung yang mana perjalanannya sekitar 2 jam. Dari Rangkas, kita lanjut naik angkutan yang disewa menuju Desa Ciboleger. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam kurang lebih. Sesampainya di ciboleger, kita mulai masuk kawasan Baduy. Dari Ciboleger menuju ke perkampungan Baduy Luar, harus menempuh waktu 1 Jam perjalanan dengan jalan kaki (anyway, gue lupa nanya itu berapa kilo meter). Untuk bisa ke Baduy Dalam, waktu tempuhnya masih 4 jam dari Baduy Luar dengan jalan kaki juga pastinya. Kita gak ke Baduy Dalam karna bertepatan dengan Tradisi Kawalu yang sedang dilakukan oleh warga Baduy Dalam. Jadi, kalau berminat ke Baduy Dalam, waktu berkunjung yang tepat adalah setelah bulan Maret.
FYI, lepas dari desa Ciboleger berarti lepas juga kita dari signal. Perjalanannya melelahkan tapi cukup fun buat gue pribadi. Pemandangannya gak jauh dari hutan, ladang dan sungai. Buat yang punya kampung halaman mungkin biasa sama pemandangan tersebut, tapi buat pelarian dari ibukota.. I can say it's good and refresh.
Oh iya, selama perjalanan, kita sebagai peserta trip gak cuma di dampingi oleh tour leader dari travel agentnya aja, tapi juga di temani oleh orang dari Baduy Dalam, yaitu pak Anas. Beliau pun gak sendiri, ada anaknya bernama Jali dan kawannya, Kasiman. Mereka sudah menjemput kita dari Ciboleger.
Sesampainya di Baduy Luar, yang kita lakukan adalah menikmati suasananya, atau mengapresiasi diri dengan tidur karna sudah berhasil jalan kaki selama 1jam, but I guess you'll be curious to look around and forget to sleep hehe.
Kehidupan masyarakat dari suku baduy ini sangat sederhana. Akses listrik aja gak ada, jadi jangan harap ada keajaiban dapet sinyal buat eksis di sosial media kecuali.. rela jalan 1 jam ke Ciboleger.
Kegiatan sehari-hari masyarakat diantaranya berladang sudah pasti, berdagang hasil ladang, mengangkut pesanan hasil ladang ke Ciboleger, atau bahkan menenun bagi yang perempuan.
Perempuan atau laki-laki disana terbiasa membawa durian, pisang atau hasil ladang lainnya dengan berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Bahkan, masyarakat asli Baduy dalam yang mau ke Jakarta atau kota lainnya tetap harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dan tanpa alas kaki.
Anak-anak disana gak ada yang sekolah. Gue pun bertanya tanya, menurut pernyataan dari tour leader gue, mereka gak diizinkan sekolah karna ilmu pengetahuan bisa membuat seseorang menjadi jahat dan bisa merusak alam. Alasan mereka bisa di terima sih menurut gue, karna.. in some cases banyak orang yang memang salah menggunakan ilmunya, although at the other side gue tetap merasa pendidikan atau sekolah itu penting.
By the way, fasilitas disana juga seadanya guys. Ada bilik sih untuk mandi atau buang air kecil, tapi gak banyak. Jadi pilihannya ada 2, ngantri atau ke sungai. That would be fun experience, don't you think? Haha.
Masyarakat Baduy itu sangat patuh dengan aturan adat yang ada. Menurut gue itu salah satu daya tarik mereka. Di jaman yang sekarang semua nya dibuat serba mudah, mereka tetap stay with their culture dan memegang teguh ajaran nenek moyang mereka. Semua serba seadanya, bertolak belakang kan dengan gaya hidup 'kekinian' yang banyak dilakukan orang zaman sekarang? Nah, makanya gue bisa bilang ini cukup challenging buat kita yang biasa hidup di kota, yang semuanya serba mudah dengan pemanfaatan teknologi terkini. Walaupun gak ada yang mengawasi, mereka tetap gak mau mencoba sesuatu yang sudah jelas dilarang.
Kita boleh banget nih mencontoh sikap mereka dengan patuh pada apa yang sudah ditetapkan atau di ajakarkan kepada kita sesuai dengan kepercayaan kita tentunya.
Seperti yang gue bilang sebelumnya. Kita kesana melalui open trip, dengan rombongan sekitar 20 orang yang gak saling kenal. Spent time with stranger wasn't that bad honestly. We laugh together like old friends. Talk about random things and enjoy the moment, that's all matters.
Kebayang kan gimana kita semua yang pada dasarnya adalah orang asing buat satu sama lain, menghabiskan waktu bersama. Gue merasa senang sih dengan atmosfernya. Dari suasanyanya dan tentunya partner tripnya. Semuanya membaur, tour leader dari Postualang (Travel Agent) juga men-treat kita semua dengan baik. Suasana sunyi dan gelap di Baduy jadi terasa nyaman dan menyenangkan.
Gue gak tahu deh kalo dapet rombongan dengan orang yang gak bisa membaur atmosfernya akan seperti apa. There's no guarantee you'll be as enjoy as I am or not, yet I still recommend you guys to try, because why not ?
So yaass, I think that's all the story from my holiday. Semoga kesederhanaan dan kepatuhan dari masyarakat Baduy bisa diterapkan bagi yang sudah datang kesana, dan semoga kalian yang membaca tulisan yang sederhana ini bisa dapat manfaat yang baik pula. Sorry kalo informasi nya masih kurang lengkap ataupun kurang tepat, thank you so much for coming to my page. See you all :)












Komentar
Posting Komentar