Being 20-Something
Dulu waktu masih SMA, gue melihat usia 20 tahun adalah usia yang masih sangaaaat jauh untuk gue pijak, bahkan gue yang masih dalam usia belasan pada saat itu befikir kalau usia 20 itu tua. Gue beranggapan seperti itu bukan tanpa alasan, karna gue merasa banyak banget step yang harus gue lalui sebelum usia segitu. Gue masih harus berfikir tentang ujian naik kelas 3 SMA, bagaimana melalui masa tahun terakhir di sekolah dengan senang dan menyeimbangkan pelajaran yang harus gue serap, ujian nasional, ujian perguruan tinggi, mikir keras akan kuliah dimana, jurusan apa, membayangkan kuliah seperti apa, menerawang tentang skripsi yang gue amat sangat tidak paham pada saat itu. Yup, a girl with no idea about how's life would be outside her bubble.
Time flies.
Menjalani tahun terakhir di SMA ternyata gak berasa. Kebanyakan haha-hihi eh, besoknya UN (Who's agree?). Sampai akhirnya gue sah menjadi mahasiswa. Menjalani kuliah ternyata juga gak berasa. Gue masih menjadi gue yang sama, yang suka haha-hihi, bedanya saat kuliah gue amat sangat berusaha menyeimbangkan antara belajar dan main. Alhamdulillahnya gue ketemu sahabat-sahabat yang juga punya visi misi yang sama. Dan gue pun menginjak usia 20 tahun menjelang tahun ketiga perkuliahan. Mendadak mikir keras ketika gue sadar, gue akan sampai di usia yang dulu gue pandang sangat jauh. Gue mereview ulang diri gue sendiri, dulu gue gimana, sekarang sejauh mana, dan ke depannya mau seperti apa. Gue merasa masih sangat muda. Tentang 'tua' di usia 20 yang pernah gue bayangkan itu ternyata salah. Ternyata gue masih fun and fine aja di usia segitu, pandangan soal masa depan memang sudah semakin jelas tapi masih santai.
And here I am today, in the corner of coffee shop, as a twenty-something year old who survive the quarter-life crisis, re-thinking a bit about my self when I was twenty.
Ada di usia segini ternyata susah susah gampang, itu yang gue rasain dan sering gue denger dari teman-teman seumuran. Beberapa orang menganggap kita masih muda, beberapa lainnya menganggap kita sudah sangat matang. Lingkup pertemanan yang semakin sempit. Pertanyaan kerja dimana, kenapa gak disana kenapa gak disitu, kapan nikah, kapan ini kapan itu. Kita pun mulai menentukan arah, ada yang mulai berkeluarga, ada yang sekolah lagi ataupun mengejar karir. Itu semua pilihan yang tergantung sama skala prioritas masing-masing dari kita. Gak jarang hal-hal kayak gitu jadi pressure tersendiri kalo mood lagi drop.
Gue pribadi sering bilang ke diri gue sendiri 'don't take it as a pressure just take it as a reminder'. Semacam mantra gitu buat healing dari pertanyaan dan pernyataan orang-orang sekitar yang bisa jadi pressure tadi. Jujur gue gak mau keputusan apapun yang gue ambil nantinya didasari oleh society pressure, karna gue yakin rasanya gak bakalan enak.
Mungkin banyak dari kita yang lagi ada di fase ini yang mempertanyakan pencapaian diri sendiri dan melihat atau mempertanyakan pencapaian orang lain. Mempertanyakan untuk apa keberadaan kita, apa yang sudah kita berikan buat sekitar kita, seberapa bermanfaat hidup kita dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya. Kalau kita bisa memaknai pertanyaan itu sebagai motivasi akan bagus banget tapi kalau enggak? Hmmm. Kita perlu sih melihat sesuatu dengan kacamata bersyukur, kalau enggak, mungkin kita bakalan jatuh ke jurang dan lupa buat kasih apresiasi ke diri sendiri. Jujur aja di usia 20 tahunan gini, gue lagi menikmati jadi individu yang mandiri karna setidaknya gue gak lagi minta uang jajan sama ortu hehe. Tapi selain alasan itu, di usia ini tuh kita lagi bebas bebasnya mengambil keputusan sendiri. Banyak dari kita yang sudah bisa bikin rules sendiri soal hidup kita, choose our own path, follow our passion itu adalah beberapa opportunity yang kita dapatkan di usia 20an. Kebanyakan orang tua juga sudah mulai membebaskan anaknya untuk mengambil keputusan sendiri ketika sudah di usia 20an, setidaknya itu yang gue rasakan. Sisi gak enaknya adalah kegalauan dan pressure yang kita hadapi ketika keputusan sepenuhnya ada di tangan kita (serba salah ya hehe).
Gue yakin seberat apapun fase ini buat kita, pasti ada hal yang bikin kita bersyukur. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menambah value kita sebagai manusia. Gue pribadi sedang mencoba untuk itu.
Gue yakin seberat apapun fase ini buat kita, pasti ada hal yang bikin kita bersyukur. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menambah value kita sebagai manusia. Gue pribadi sedang mencoba untuk itu.
Semoga kita bisa terus positive thinking through ups and downs in life.
Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya bahwa skala prioritas dan pattern of life setiap orang berbeda-beda, jadi harusnya sih kita gak perlu worry soal kenapa dia sudah begitu dan kita masih begini ataupun pikiran-pikiran lain yang bikin kita jadi down. We have our own time dear all fighters of quarter life crisis out there so keep it up.
Cheers!
Komentar
Posting Komentar